Caged | A Novel by me


 

Caged

Hong Kong, 17 Maret.

 

Langit-langit kamar yang berwarna kehitaman.

Sepertinya sudah hampir dua tahun aku tidak membersihkan kubikal secara menyeluruh.

 

“Sialan, kemarin ‘kan kau sudah memakai dapur seharian, Nyonya Meixiang!” Ah, mereka bertengkar lagi, pagi-pagi. “Sekarang giliran saya yang memakainya, anak-anakku harus sarapan pagi ini!”

“Aku hanya ingin menggunakan penanak nasi, masalahmu apa sih, Nyonya Chenguang?!”

“Tidak, tidak! Kau pasti akan keterusan memasak makanan lainnya dan anak-anakku harus berangkat sekolah sebentar lagi!”

 

Aku menghela napas pelan. Yah, menjadi warga kasta ‘menengah ke bawah’ di Hong Kong, terutama di distrik kota Kowloon, mungkin kenyataannya lebih buruk dari yang kau bayangkan.

Satu unit apartemen dibagi lagi menjadi beberapa kubikal sempit yang rangka & pembatasnya dibuat dari kawat besi hingga menyerupai ‘kandang’, dan beberapa orang– juga keluarga– akan tinggal berdesakan di unit yang terbagi ini. Biasanya tempat tidur, lemari pakaian, TV, meja rias, dan kipas angin disatukan menjadi kubikal sebesar kurang lebih 1,6 x 2 meter yang sesak, lalu ada 2 toilet dan satu dapur kecil yang digunakan bersama untuk beberapa rumah tangga.

 

Aku bangun dari matrasku yang kumal dan dahiku membentur langit-langit kubikal. Setelah dengan susah-payah keluar dari tempat sesak itu, aku keluar ke dapur dan mendapati Ny. Chenguang yang sudah menguasai dapur, dan istriku, Meixiang, terduduk murung di satu-satunya kursi yang ada di dapur tersebut. Sepertinya dia kalah argumen.

 

“Sudahlah, nanti kubelikan makanan diluar.” ujarku dengan lembut sembari mengusap kepala Meixiang. Ia mendongakkan kepala dan memandangiku lesu. Walaupun begitu Meixiang akhirnya tersenyum dan mengangguk.

 

“Kalau begitu aku ikut, ya. Aku akan mengganti bajuku dulu sebentar.” tutur Meixiang. Ia pun berlalu ke ‘kamar’ kami.

 

“Menurut IMF, berdasarkan pendapatan per kapita, Tiongkok berada di peringkat 73 berdasarkan PDB per kapita pada 20xx. PDB Tiongkok adalah 99 triliun Yuan atau seharga $ 14,4 triliun pada tahun 20xx...”

Kalimat reporter itu terpotong, aku mematikan televisi karena entah mengapa merasa pusing mendengar kata-kata berbelit begitu. Jangan-jangan ini karena efek bekerja menjadi buruh pabrik dari pagi buta sampai malam. Sudah saatnya aku mencari pekerjaan lain yang lebih, entahlah, layak ?

Baiklah, itu tidak ada hubungannya dengan berita televisi.

“Tn. Fang, kenapa TV-nya malah dimatikan?!” protes Ny. Chenguang. Sepertinya dia tadi sempat teralihkan dari kegiatan memasaknya dan malah fokus menonton TV.

“Tumben sekali, Ny. Chenguang. Biasanya anda tidak suka menonton berita, karena anda sendiri yang bilang, ‘menambah beban pikiran saja’.” ucapku.

Wajar saja ‘kan, aku heran. Karena seingatku, biasanya Ny. Chenguang lebih suka menonton drama romantis Cina, atau acara gosip selebriti, daripada menonton berita lokal.

 

Ny. Chenguang pun terdiam dan ikut bingung. “Ah... benar juga, ya. Sepertinya aku sedang stres akhir-akhir ini– oh ya ampun! Bāozi (pangsit kukus) nya bisa-bisa terlalu kenyal!” panik Ny. Chenguang dan kembali sibuk dengan aktivitasnya.

 

Aku menggelengkan kepala dan pergi ke kamar. Sesampainya disana aku melihat Meixiang sudah selesai berganti baju dan memakai mantel. “Aku merasa banyak hal aneh terjadi akhir-akhir ini."


To be continued...


Tags: novel, story, thriller, psychological, dystopian, fiction, Hongkong, culture

Comments

Popular Posts